AntiSensei Indonesia

Semua Tentang Ilmu Pengetahuan

Jam Pelajaran Ke-40 : Sejarah Desa Dasin!

Pada pertengahan abad ke-19 paska Perang Pajang yaitu perang besar di tanah Jawa antara bangsawan kerajaan Pajang dengan kerajaan Mataram. Banyak bangsawan dan tentara yang melarikan diri dari kerajaan akibat perang saudara. Diantaranya adalah salah satu prajurit kerajaan Pajang yang bernama Raden Untung. Wilayah atau daerah pelariannya berada di Tuban.

Dalam perjalanan ke Tuban, para bangsawan dan prajurit Pajang berhenti dan beristirahat untuk mencari tempat yang aman. Ketika dalam perjalanan, beliau berada di suatu wilayah sebelum sampai di Tuban. Disana beliau menjumpai banyak manusia mati tanpa sebab kematiannya (Jawa, Bathang) atau bergeletakan banyak tubuh yang hilang –dipenggal– tinggal kepalanya saja (Jawa, Endas) dan mengeluarkan bau anyir menyengat (Jawa, Basin).

Oleh Raden Untung daerah atau wilayah tersebut, beliau bersumpah, "Nek ono rejane jaman, tlatah iki dijenengno Ndasen (Dasin)". Kata Dasin diambil dari gabungan kata Endas (kepala) dan sing ambune Basin (yang berbau anyir). Untuk mengenang peristiwa tersebut dan menandai daerah tersebut akhirnya para bangsawan tersebut menamai daerah tersebut dengan nama Ndasen atau Dasin. Dan salah satu tempat peristirahatan (petilasan) bangsawan tentara Pajang berada di Ketapaan atau pertapaan.

Pada zaman perwalian, ada salah satu wali yang singgah di pertapaan yang bernama Wali Anggot  dan istrinya bernama Buyut Wareng. Dalam pengembaraannya menyebarkan ajaran Islam, beliau juga berhenti di pertapaan atau petilasan. Di petilasan (pertapaan) tersebut, beliau membuat sumur untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sampai pada akhir hidupnya Buyut Wareng dan Wali Anggot di kuburkan di sekitar pertapaan atau petilasan sebelah barat. Guna mengenang jasa para sesepuh yang telah meninggal dunia atau wafat, maka setiap tahunnya diadakan sedekah bumi yang disebut Manganan Ketapaan. Manganan tersebut diadakan di Ketapaan. Dalam acara tersebut, warga selalu melakukan tradisi tabur bunga (nyekar) sambil odek-odek uang receh yang diperebutkan oleh banyak orang sebagai rasa syukur.

Demikianlah sejarah desa Dasin, Kecamatan Tambakboyo, kabupaten Tuban.



AntiSensei™
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Jam Pelajaran Ke-40 : Sejarah Desa Dasin!"

Terima Kasih Sudah Berkomentar
 
Template By Kuncidunia