AntiSensei Indonesia

Semua Tentang Ilmu Pengetahuan

Jam Pelajaran Ke-41 : Sejarah Desa Koro dan Desa Pongpongan!

Pada suatu ketika, nama sejarah desa Pongpongan dan Koro belum mempunyai nama. Datanglah suatu hari yang menjadi cikal bakal terjadinya desa Koro, Pongpongan, Temandang dan desa lainnya yang menjadi rute perjalanan wali Allah yang menebang pohon jati dari Koro untuk dibawa ke Demak untuk dijadikan tiang masjid Demak Bintoro.

Kala itu, para wali dipimpin oleh Sunan Bonang menyuruh salah satu muridnya yang bernama Syeh Abdullah (salah seorang wali yang menjadi penyebar cikal bakal desa Pongpongan dan Koro) untuk menebang pohon jati yang sangat besar sekali. Bayangkan saja letak pohonnya ada di sebelah barat desa Koro, namun ujung pohonnya sampai desa Pongpongan. Setelah pohon itu ditebang dan roboh, Syeh Abdullah melihat ada seorang yang sudah tua. Lalu Syeh Abdullah menghampiri dan menanyai orang tua tersebut dengan kata yang penuh sopan dan lembut, "he… ada apa mbah??" tanya Syeh Abdullah. Lalu orang tua tersebut menjawab dengan bahasa yang lembut dan sopan juga dengan bahasa jawa, "badhe ndherek tumandang".

Mulai dari peristiwa itu, secara spontan Syeh Abdullah berkata dengan bahasa jawa pada orang-orang, "hai… dhulurku kabeh, bumi sakkanggone kayu roboh iku, ing rejane zaman tak jenengno Tumandang (Temandang)". Akhirnya, daerah itu diberi nama desa Temandang.

Setelah menebang tadi, para wali merasa kehausan. Lalu Sunan Bonang menyuruh salah satu dari muridnya untuk mencari air minum. Kemudian berangkatlah seorang murid tersebut. Setelah mencari-cari tidak mendapatkan air, lalu wali tersebut melihat ada sekelompok orang yang menggali sebuah sumur dan dihampirinya sekelompok orang tersebut kemudian wali tersebut berkata, "Hai… kisanak, saya mau minta air minum. Keluarlah kalian dari dalam sumur. Saya mau minum". Namun jawabannya malah tidak sopan sekaligus kasar terhadap wali tersebut kemudian wali tersebut memahami. "Nggawe sumur wae durung metu banyune kok jalok ngombe? Watu iki ono." jawab si pembuat sumur tadi. Setelah kejadian itu, para wali mengingatkan kepada penggali sumur tadi, akan tetapi nasehat dan teguran dari wali tersebut tidak dihiraukan. Melihat hal tersebut, kemudian wali tadi berkata, "Ya sudahlah kalau tidak boleh.  Sumur tersebut tidak akan keluar airnya selamanya. Dan jika kalian semua mau mandi, berteduhlah di bawah pohon jambu!". Demikianlah kata wali tadi dan konon menurut cerita rakyat, sumur orang Koro itu dipindahkan ke desa Setro, kecamatan Palang.

Kembali ke benang merah. Setelah pohon jati roboh, rantingnya (Jawa, pang pangan) di tanam di desa Pongpongan. Nama desa Pongpongan berasal dari kata pang pangan yang berarti ranting. Sedangkan dinamakan desa Koro karena nama desa tersebut sebetulnya berasal dari cerita kayu jati yang ditebang oleh para wali yang dipimpin oleh Sunan Bonang yang akan dibawa ke Demak untuk digunakan sebagai tiang (soko). Lalu tiang tersebut digergaji menjadi dua (loro), kemudian kata soko dan loro digabung oleh para wali menjadi sebuah desa yaitu desa Koro.

Demikianlah sejarah desa Koro dan Desa Pongpongan, kecamatan Merakurak, kabupaten Tuban.



AntiSensei™
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Jam Pelajaran Ke-41 : Sejarah Desa Koro dan Desa Pongpongan!"

Terima Kasih Sudah Berkomentar
 
Template By Kuncidunia