AntiSensei Indonesia

Semua Tentang Ilmu Pengetahuan

Jam Pelajaran Kedelapanbelas : Sejarah Desa Cangkring!

Asal usul penamaan desa Cangkring diyakini diambil dari sebuah jenis pohon bernama cangkring yang dulu pernah ada di desa ini. Menurut cerita tetua desa, cangkring merupakan jenis pohon dadap yang memiliki duri. Cangkring (Erythrina fusca) merupakan spesies pohon berbunga dari keluarga kacang-kacangan, Fabaceae. Di beberapa tempat dikenal dengan nama lain seperti Purple Coraltree, Gallito, Bois Immortelle , Bucayo, dan beberapa nama lainnya. Pohon ini tumbuh di sepanjang sungai dan pantai di daratan Asia beriklim tropis, Oceania, Kepulauan Mascarene, Madagaskar, Afrika, dan Neotropik. Pohon ini memiliki kulit berduri dan bunga oranye terang. Polong legumnya mencapai panjang hingga 20 cm dan berbiji coklat gelap. Ketika biji pohon gugur, selanjutnya terapung di laut dan kemudian tersebar di sepanjang pantai. Pohon ini sangat adaptif terhadap lingkungan pesisir, yang kadang tergenang banjir dan lingkungan air tanah bersalinitas yang tinggi.

Seperti halnya spesies lain dalam genus Erythrina, bunga E. fusca mengandung toxic alkaloid yang digunakan secara luas sebagai obat namun beracun apabila digunakan dalam jumlah yang besar. Alkaloid yang paling umum adalah erythraline, yang digunakan sebagai nama genus. Sementara tunas dan daunnya yang muda dapat dikonsumsi sebagai sayuran. Dikarenakan kemudahan pertumbuhannya dan bunganya yang menarik, pohon ini banyak dibudidayakan sebagai ornamen penghias dan tanaman pagar. Pohon ini merupakan pohon rindang yang umum di perkebunan kakao. Bunganya yang atraktif mengundang burung kolibri dan membantu proses penyerbukan bunganya.

Demikianlah sejarah singkat desa Cangkring, kecamatan Plumpang, kabupaten Tuban.



AntiSensei™
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Jam Pelajaran Kedelapanbelas : Sejarah Desa Cangkring!"

Terima Kasih Sudah Berkomentar
 
Template By Kuncidunia