AntiSensei Indonesia

Semua Tentang Ilmu Pengetahuan

Jam Pelajaran Kesembilanbelas : Sejarah Desa Prambontergayang!

Konon pada masa kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke XIV, tersuratlah sebuah kisah tentang asal-usul sebuah peradaban. Berawal dari sebuah daerah terpencil tepatnya di pendukuhan Kenduruan.
Di pagi yang masih buta, tampaklah dua pemuda bersaudara yang sedang berkemas-kemas menyiapkan bekal seadanya untuk berangkat mengembara mencari jati diri dan makna kehidupan serta ingin lebih mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widi Wasa Pencipta Alam Semesta. Dari kedua pemuda itu, sang kakak bernama Kromo Sentiko dan sang adik bernama Kromo Rewok. Setelah berembuk sesaat, mereka kemudian memutuskan untuk memulai pengembaraannya berjalan ke arah selatan menyusuri sungai menerobos lebatnya hutan jati yang masih perawan yang sama sekali belum pernah dirambah manusia, naik bukit dan menuruni jurang. Tak jarang mereka harus berhadapan dengan binatang buas yang kelaparan siap memangsa mereka juga gangguan dari makhluk halus seperti jin, ilu-ilu, banaspati, genderuwo, dan makhluk gentayangan lainnya. Tapi karena kedua pemuda itu sudah punya bekal ilmu bela diri dan aji kadigdayaan maka semua halangan itu dapat diatasi.

Tepat tujuh hari dalam perjalanan, maka sampailah mereka pada suatu tempat yang dihuni oleh ratusan monyet (krapyak). Anehnya monyet-monyet itu hanya berkumpul di satu pohon Gayam besar yang tak jauh dari sungai dan di bawah pohon itu ada sebuah Perabon Tua. "Perabon" berasal dari kata perabuan yang artinya kuburan. Melihat fenomena alam dan kemistisan tempat itu, Kromo Sentiko berpikir pasti yang dikubur di perabuan atau kuburan itu orang sakti atau bahkan orang suci. Setelah beristirahat dan berpikir sejenak di tempat itu, hatinya merasa tenang yang kemudian memutuskan untuk babad alas dan tinggal di sekitar perabon itu sambil memelihara Perabon Tua itu yang diyakini perabuan orang suci dengan membuat Ledhangan. Ledhangan adalah semacam tempat yang digunakan untuk bertapa mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan dikeramatkan yang biasanya diberi sesajian (letaknya tepat di selatan Balai Desa, seiring perkembangan zaman tempat itu sekarang sudah menjadi pemukiman).

Kemudian tempat itu oleh Kromo Sentiko diberi nama Banaran atau 'Pengembane Pengeranyang' artinya abdi Tuhan. Sedangkan sang adik yaitu Kromo Rewok babad alas agak ke barat daya (tepatnya sekarang di rumahnya Mbah Bini) dan karena tempat dia babad ada sebongkah batu besar yang memantulkan cahaya ketika terkena sinar matahari, maka oleh Kromo Rewok memberi nama tempat itu dengan nama Karangtawang. Karang artinya batu sedangkan Tawang artinya langit. Jadi artinya adalah batu langit seperti anggapan Kromo Rewok bahwa batu itu adalah batu langit.

Seiring berjalannya waktu dari hari berganti minggu, dari minggu berganti bulan, tak terasa bertahun-tahun sudah, dua bersaudara itu menempati tempat tersebut. Tempat itu pun semakin ramai oleh para pendatang yang ingin tinggal. Hingga suatu saat, tibalah seorang pendatang yang menghadap pada Kromo Sentiko namanya Kromo Genjit. Sebagai pendatang baru, Kromo Genjit merasa berkewajiban menghadap Kromo Sentiko sebagai wujud rasa hormat kepada tetua yang babad tempat itu. Adapun maksud kedatangan Kromo Genjit adalah meminta ijin pada Kromo Sentiko untuk babad alas di sebelah utara sungai. Permintaan itupun oleh Kromo Sentiko langsung disetujui.

Keesokan harinya, Kromo Genjit memulai pekerjaannya membuka hutan. Anehnya di tempat itu sangat banyak ditumbuhi pohon Gayam. Sementara daerah di sekitarnya ditumbuhi mayoritas pohon jati. Akhirnya oleh Kromo Genjit, tempat itu diberi nama pendukuhan Gayam.

Singkat cerita dari ketiga pendukuhan tersebut telah mengalami perubahan dan pemekaran hingga menjadi dua kelurahan yang membawahi beberapa pendukuhan kecil. Yang pertama kelurahan Prambon (diambil dari kata Perabon) dan membawahi tiga pendukuhan kecil yaitu Dukuh Banaran, Dukuh Karangtawang (yang kemudian berganti nama menjadi Jalin) dan yang terakhir Dukuh Sawahan. Kelurahan yang kedua bernama kelurahan Gayam yang membawahi dua pendukuhan kecil yaitu Kenti dan Dalwo.

Kemudian pada masa Orde Baru yaitu pada masa pemerintahan Lurah Talkah, terjadi penggabungan dua kelurahan tersebut menjadi satu desa dan diberi nama "Prambontergayang" (diambil dari kata Prambon dan Gayam).

Demikianlah sejarah dari desa Prambontergayang, kecamatan Soko, kabupaten Tuban.



AntiSensei™
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Jam Pelajaran Kesembilanbelas : Sejarah Desa Prambontergayang!"

Terima Kasih Sudah Berkomentar
 
Template By Kuncidunia