AntiSensei Indonesia

Semua Tentang Ilmu Pengetahuan

Jam Pelajaran Ke-35 : Sejarah Desa Jatisari!

Pada tahun 1892, terjadi peperangan antara Pajang dan Mataram. Namun sebelum peperangan itu terjadi, ada salah satu keluarga dari kerajaan Pajang, yaitu seorang wanita bernama Saidah Aisyah yang tidak suka peperangan sehingga ia keluar dari Pajang mencari ketentraman hidup sambil membawa barang dagangannya berupa gerabah.

Dalam perjalanan tersebut, dia berhenti di suatu tempat untuk mencari ketentraman kehidupan dan tempat itu oleh beliau diberi nama Jatisari dan Jatileres. Jatisari punya arti urip sing sejati (hidup yang sejati) sedangkan Jatileres punya arti urip sing bener (hidup yang benar). Pengertian nama desa tersebut karena Saidah Aisyah telah menemukan kehidupan yang sejati/ hakiki dan kehidupan yang benar sehingga beliau bisa membedakan antara kehidupan dan perilaku yang hak dan yang batil.

Kemudian pada waktu Bupati Citrosoma ada sayembara, barang siapa yang bisa mengalahkan Noyo Gimbal akan diberi hadiah sepertiga Tuban yang meliputi Parengan, Singgahan dan Senori. Akhirnya, sayembara itu didengar oleh adik Saidah Aisyah yang bernama Kendil Wesi. Bertemulah Kendil Wesi dengan kakaknya sekaligus minta restu mengikuti sayembara karena Noyo Gimbal seorang pendekar yang sudah teruji kejadukannya. Pertengkaran adu kesaktian dan kejadukan itu dimenangkan oleh Kendil Wesi sekaligus menerima hadiah dari Bupati Citrosoma berupa sepertiga wilayah Tuban (Parengan, Singgahan dan Senori).

Tahun berikutnya wilayah kekuasaan di desa Jatisari diteruskan menantu Kendil Wesi yang memperistri Legis. Makam Saidah Aisyah sampai sekarang berada di dusun Jatileres, desa Jatisari, yang mana oleh masyarakat setempat makam tersebut banyak dikunjungi oleh masyarakat yang mempunyai keyakinan bahwa beliau adalah termasuk waliyullah. Sehingga setiap tahun diadakan ritual.

Konon cerita masyarakat, tempat ini sangat keramat dengan bukti seorang pejabat masuk makam dengan memakai celana maka berakibat jabatannya lengser. Acara ritual tersebut oleh kepala desa sampai sekarang masih berjalan dengan rangkaian acara hari pertama paginya shodakoh (membawa ambeng ayam panggang) yang dipimpin ritual do’a mudin, rangkaian acara berikutnya tahtimul qur’an dan tahlil, hari kedua wayang kulit dengan biaya swadaya dari masyarakat penduduk Jatisari dengan dalang turun temurun yaitu dalang Ki Dalang Sakim sampai Ki Dalang Manteb Gunawan.

Perjalanan pemerintahan berikutnya datanglah dua bersaudara yang bernama Carik Konto dan Poyo. Kedua bersaudara tersebut seorang yang kaya raya dengan mengemban misi Dakwah Islam. Namun hambatan begitu berat sehingga beliau mendatangkan seorang yang ahli ilmu agama (Kyai) bernama Malikul Khusna dari Sedan, Rembang, Jawa Tengah. Sehingga dengan kedatangan seorang yang ahli ilmu agama tersebut perkembangan Islam di desa Jatisari sangat pesat, dengan menurunkan generasi-generasi dari keluarganya, yaitu : Ki Haji Joned sampai Ki Haji Minanurrohman dan Ki Haji Makmun. Generasi berikutnya Carik Konto dan Poyo menurunkan Putra diantaranya H. Abdul Rohman beliau mendapatkan harta peninggalan yang banyak untuk digunakan meneruskan perjuangan misi dakwah ayahnya dengan mengambil menantu seorang yang ahli di bidang agama yaitu Ki Haji Nursalim, dari Weden, Bangilan. Selain itu juga mengambil menantu H. Sahid yang mengambil menantu H. Mashuri dari Lasem, Rembang, Jawa Tengah, yang sama-sama ahli di bidang ilmu agama.

Demikianlah sejarah desa Jatisari, kecamatan Senori, kabupaten Tuban.



AntiSensei™
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Jam Pelajaran Ke-35 : Sejarah Desa Jatisari!"

Terima Kasih Sudah Berkomentar
 
Template By Kuncidunia