AntiSensei Indonesia

Semua Tentang Ilmu Pengetahuan

Jam Pelajaran Keenambelas : Sejarah Desa Grabagan!

Sebelum menjadi sebuah desa, wilayah desa Grabagan merupakan sebuah hutan belantara yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Maka disebutlah hutan (alas) Blulak-bluluk. Letak alas Blulak-bluluk tersebut berjarak 20 km dari kota Tuban.
Pada saat penyebaran agama Islam, ada seorang putra raja Brawijaya dari kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam yaitu Raden Abdus Subakir yang kemudian memperdalam agama Islam pada seorang wali di Tuban yaitu Sunan Bejagung atau Syech Asy’ari (Modin Asy’ari). Bertahun-tahun beliau menjadi murid Syech Asy’ari tapi akhirnya diambil sebagi menantunya. Dipersuntingkan dengan anak angkat beliau yaitu Chi Lou Wie seorang gadis keturunan Tionghoa yang ditinggal mati oleh bapaknya yang kemudian dirawat oleh Syech Asy’ari. Tahun berganti tahun, maka pamitlah Raden Subakir beserta istri pada Syech Asy’ari untuk mengembara menyebarkan agama Islam. Oleh Sunan Bejagung disarankan untuk mengembara ke wilayah selatan, maka berangkatlah pasangan muda ini ke selatan dan sampailah pada sebuah hutan yang banyak kelapanya yaitu Alas Blulak-bluluk. Disitulah kemudian pasangan ini menetap dan menyebarkan agama Islam pada penduduk yang sebelumnya sudah ada 2 km dari tempat Raden Subakir tinggal yaitu di dukuh Gading. Pada saat itu dipimpin oleh seorang penganut agama Hindu bernama Ki Tani yang kemudian dia masuk Islam dan berganti nama Kyai Tani.
Kemudian di sebelah barat berjarak 1 km dari tempat Raden Subakir juga ada sebuah dukuh yang namanya dukuh Semigit. Pada saat itu dipimpin oleh Ki Gedhe Semigit yang akhirnya juga masuk Islam dan berganti nama menjadi Kyai Gedhe Semigit. Bekas-bekas masjid sampai sekarang masih ada, begitu pula dengan Makam Kyai Tani dan Kyai Gedhe Semigit masih terawat sampai sekarang.
Alkisah, diceritakan seorang pemuda bernama Syech Abdus Shomad yang berasal dari negeri Irak (Baghdad) dan masih keturunan ke-12 dari Syech Abdul Qodir Jaelani, ulama’ besar berasal dari Irak (Baghdad) mengembara dan menyeberangi lautan untuk mengikuti para musafir Arab dan sampailah pada sebuah negeri di pulau Jawa yaitu Kerajaan Banten yang saat itu dipimpin oleh Sultan Agung. Kemudian pemuda ini melanjutkan pengembaraannya ke Batavia (Jakarta). Namun, saat itu terjadi peperangan antara Sultan Agung dengan VOC, maka pemuda yang berpakaian muslim ini ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Di dalam penjara VOC, pemuda ini berkenalan dengan salah satu prajurit Mataram yang ditawan yaitu Simin Luwih. Tapi akhirnya keduanya bisa lolos dari penjara tersebut, kemudian berangkatlah menuju Cirebon dan mengabdi di kasunanan Cirebon. Setelah beberapa tahun di Kraton Cirebon mereka berpisah, Syech Abdus Shomad kembali mengembara menuju ke Tuban. Sesampai di Tuban, beliau memperdalam ilmu Islam dan menjadi murid Syech Asy’ari. Setelah lama di Bejagung diperintahkanlah Syech Abdus Shomad menyusul muridnya yaitu Raden Abdus Subakir ke Alas Blulak-bluluk untuk membantu menyebarkan agama Islam sekaligus mengajarkan ilmu pertanian dan pertukangan.
Berangkatlah Syech Abdus Shomad menyusul Raden Abdus Subakir yang telah menetap di Alas Blulak-bluluk dan menjadi pemimpin dengan sebutan Singo Grabag sekaligus guru ngaji bagi ulama-ulama Islam lainnya seperti Syech Maulana dan lain-lain. Setelah sampai di Alas Blulak-bluluk menghadaplah pada Singo Grabag dan kemudian menjadi muridnya. Oleh Singo Grabag, Syech Abdus Shomad diambil menantu dan dinikahkan dengan anaknya yang bernama Siti Mu’anaf (Menef). Di Alas Blulak-bluluk, Syech Abdus Shomad membuat banyak sawah termasuk yang sekarang dipakai para perangkat desa Grabagan (Bengkok). Beliau adalah ahli pertanian sekaligus ahli pertukangan, mereka hidup bahagia menjadi keluarga yang besar yang taat pada agama. Sampai suatu saat Alas Blulak-bluluk terkena musibah banjir yang mana Singo Grabag (Syech Abdus Subakir ) terbawa arus Banjir Bandang kalau diwilayah kami terseret air itu disebut "Ke Grabag". Oleh karena itu, keturunan beliau mengganti nama dukuh Blulak-bluluk menjadi nama Grabagan. Akhirnya, dukuh Blulak-bluluk menjadi sebuah kelurahan dengan nama kelurahan Grabagan. Dengan lurah yang pertama Syech Maulana putra sulung Syech Abdus Subakir (Singo Grabag) atau lebih terkenal dengan nama Ki Rodongso Tembok.
Kita kembali ke kisah Syech Abdus Shomad (Canggah Samad), dia menjadi guru ngaji sekaligus penasehat Ki Rodongso Tembok. Untuk masalah pertanian dan pertukangan hingga suatu saat di hari Jum'at Pahing tanggal 17 bulan Maulud, beliau dipanggil menghadap Sang Kholid saat beliau sedang mengerjakan rumah dan tidak sengaja jarinya terjepit sampai wafat. Sampai sekarang makam dan bukti-bukti lainnya masih terawat.

Demikianlah sejarah desa Grabagan, kecamatan Grabagan, kabupaten Tuban.



AntiSensei™
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Jam Pelajaran Keenambelas : Sejarah Desa Grabagan!"

Terima Kasih Sudah Berkomentar
 
Template By Kuncidunia