Nguruan bisa dikatakan desa Islam tertua di kecamatan Soko, kabupaten Tuban. Buktinya bisa dilihat dari bangunan bersejarah Langgar Santren. Disana tertulis tahun berdirinya sangat tua tepatnya pada hari Senin Pahing, tanggal 13 Jumadil Akhir tahun 1302 H / 30 Maret 1885. Tetapi orang di luar Tuban, semisal orang Gresik, Malang, dll selalu menyebut desa Nguruan dengan nama Rengel, karena sejarah leluhurnya dari Rengel.
Dahulu desa Nguruan masih berupa hutan belantara, pepohonan begitu rimbun dan menampakkan keangkerannya, karena dari arah timur sudah ada makam Mbah Goang dan dari barat ada makam Mbah Sendang Trunojoyo.
Asal-usul dan sejarah babat tanah Nguruan berawal dari datangnya dua orang Kyai bernama Kyai Maulana dan Kyai Mursyidin yang diutus oleh Kyai Ishaq, pembabat wilayah Rengel dan orang yang telah mengalahkan Uling (sejenis belut putih raksasa) penguasa sendang Beron. Konon, saking besarnya uling ini sampai-sampai waktu matinya saja harus diseret 25 cikar yang artinya ditarik 50 ekor sapi untuk dikuburkan di wilayah Rengel. Sayembara mengalahkan uling ini dilakukan adipati Tuban dan yang berhasil akan diberi tanah Rengel dan ternyata yang berhasil adalah Kyai Ishaq. Sebelumnya telah ada punggawa Majapahit yang mencobanya, akan tetapi tewas mengenaskan menghadapi uling itu. Punggawa Majapahit itu bernama Baron, sehingga daerah itu diberi nama Beron. Bagi semua keturunan Kyai Ishaq untuk tidak berkunjung ke sendang Beron depan MAN Rengel. Konon, masih ada makhluk ghoib yang dendam sampai anak cucunya karena rajanya tewas di tangan Kyai Ishaq. Benar tidaknya mitos ini. Wallohu a'lam.
Beliau mengutus menantunya yang bernama Kyai Maulana didampingi santri muda yanh bernama Kyai Mursyidin (beliau asli orang Lasem, Rembang, Jawa Tengah, yang mondok di pondok Kyai Qomaruddin Sampurnan di Bungah, Gresik, Jawa Timur yang waktu itu diasuh oleh Kyai Harun Bin Kyai Qomaruddin / Kyai Kanugrahan yang tak lain merupakan mertua Kyai Ishaq. Ada yang bilang bahwa Mbah Kyai Mursyidin adalah keturunan ke-5 Sunan Kudus dari pernikahannya dengan Mbah Nyai Rohilah Binti Kanjeng Sunan Bonang). Akhirnya, kedua orang tersebut berjalan menuju ke arah barat Rengel sesuai petunjuk Kyai Ishaq. Beliau memerintahkan untuk mencari sumber air agar bisa dibuka menjadi daerah baru sambil diberi janur. Akhirnya, sampailah keduanya di desa Cekalang. Di sana katanya dulu ada sumber airnya, sehingga beliau melakukan Riyadloh (puasa, wirid, sholat) beberapa hari di atas sebuah batu lapak hingga batu tersebut menjadi cekung bekas telapak tangan dan sujudnya Kyai Maulana dan Kyai Mursyidin (konon batu itu sampai sekarang masih ada di dekat musholla Cekalang). Akan tetapi keanehan terjadi, tiba-tiba saja janur yang beliau bawa dari Kyai Ishaq secara misterius menghilang tanpa jejak. Kedua orang itu kebingungan mencari ke mana hilangnya. Akhirnya beliau berdua punya inisiatif pulang ke Rengel untuk melaporkan kejadian itu kepada Kyai Ishaq. Tetapi dalam perjalanan menuju Rengel, mereka terkejut setelah mengetahui janur yang mereka cari berpindah begitu jauhnya dari Cekalang ke Santren (samping jalan menuju makam Mbah Goang). Kejadian aneh itu di laporkan ke Kyai Ishaq Rengel, beliau berkata, "Daerah iku uuuuapik, engko bakale rame santrine".
Akhirnya, kedua orang tersebut menuju tempat ditemukannya janur dan membagi wilayah, Mbah Kyai Mursyidin mendapat bagian sebelah timur jalan (di depan masjid), sedangkan Mbah Kyai Maulono mendapat wilayah sebelah barat jalan (sebelah barat masjid). Beliau berdua tidak serta merta begitu saja menempati tempat ini, tetapi beliau tirakat tidur di tanah tanpa tikar selama 40 hari. Karena konon kabarnya makhluk ghaib di desa Nguruan bukan sembarangan. Ada kisah nyata dari orang luar Nguruan yang tidur di Santren. Tiba-tiba dalam mimpinya, dia didatangi orang sambil marah dan berkata, "Anake sopo kuwe wani mlebu kene???". Orang itu pun ketakutan setengah mati dan banyak dukun dari luar Nguruan yang geleng-geleng kepala ketika menerawang Nguruan karena saking hebatnya pagar ghaibnya. Tetapi, pagar ghaib itu akhir-akhir ini sedikit demi sedikit menghilang, mungkin karena makin banyaknya penduduk yang maksiat, mabuk-mabukan, judi, dll. Sehingga langgar/musholla makin sepi karena mereka lebih senang berkumpul di warung yang ramai di pinggir jalan. Sungguh ironis dan menyedihkan, padahal leluhurnya adalah para Kyai. Bahkan Macan Goang dan Gendu tidak pernah lagi menampakkan diri. Maka jangan salahkan siapa-siapa kalau desa Nguruan sekarang tidak aman, banyak maling/pencuri dan akan banyak bencana yang turun kalau warganya bangga dengan maksiatnya, pasti leluhurny akan murka. Asal usul nama desa Nguruan berasal dari kata "Uru" yang berarti .....
Demikianlah sejarah desa Nguruan, kecamatan Soko, kabupaten Tuban.
AntiSensei™
0 Komentar untuk "Jam Pelajaran Ke-22 : Sejarah Desa Nguruan!"