AntiSensei Indonesia

Semua Tentang Ilmu Pengetahuan

Jam Pelajaran Ke-32 : Sejarah Desa Rayung!

Asal mula desa Rayung bermula dari perjalanan Onggo Lono yang berasal dari kerajaan Glagah Wangi.

Pada zaman dahulu di selatan dusun Giwang, tepatnya di lereng gunung Bendo, merupakan tempat perampok yang dikenal dengan Maling Cengkalang. Suatu hari, Onggo Lono berburu di tengah hutan ditemani Ki Fatah, Ki Muntingko dan Ki Mempreng. Dalam perburuannya, sampailah dia di pedukuhan. Disitu ia melihat Nyi Jasmirah, putri dari dusun Babatan di wilayah Mbanu Katerban. Onggo Lono jatuh cinta pada putri tersebut dan dia berniat meminangnya.

Pada suatu malam, gerombolan Maling Cengkalang merampok di Babatan dan membawa kabur Nyi Jasmirah hingga Giwang (anting) yang dipakai Nyi Jasmirah terjatuh. Mendengar hal itu, Onggo Lono yang ditemani 3 orang abdi mencarinya dalam perjalannya ia menemukan Giwang (anting) Nyi Jasmirah maka tempat tersebut diberi nama Dusun Giwang.

Onggo Lono terus mengejar Maling Cengkalang dan akhirnya bertemu sehingga terjadi perkelahian yang sengit sampai akhirnya Maling Cengkalang mati di tangan Onggo Lono. Sampai saat ini sebuah makam yang terletak di tengah hutan sebelah selatan dusun tersebut disebut Kuburan Kalang. Sedangkan Onggo Lono terluka parah. Sementara itu Ki Fatah salah satu abdinya berlari sampai di pedukuhan. Ia berhenti dan berteduh di bawah pohon beringin. Di bawah pohon tersebut, ia menggoreskan pedangnya ke batang pohon dan membentuk 2 aksara jawa yaitu Jo dan Ho. Sampai akhirnya meninggal di tempat itu dan akhirnya tempat itu diberi nama Dusun Joho. Pohon serta pemakamannya diabadikan hingga sekarang dengan nama Makam Mbah Fattah.

Sementara abdi yang lain yaitu Ki Mempreng berlari ke utara hingga sampai di tengah-tengah rerumputan yang sangat lebat. Rumput sejenis glagah tersebut dinamakan rumput Rayung dan tempat tersebut dinamakan Desa Rayung.

Onggo Lono yang terluka parah, berjalan sampai akhirnya dia jatuh pingsan. Disitu dia ditolong oleh Ki Muntingko yang sedang menggembalakan kerbau. Karena mengobati luka Onggo Lono yang terluka parah dan pingsan maka Ki Muntingko langsung membawa Onggo Lono ke rumahnya sampai Onggo Lono siuman. Karena Ki Muntingko sedang menggembalakan kerbau, ia segera kembali ke padang rumput dan menyuruh Onggo Lono beristirahat di tempatnya. Sesampainya di tempat semula, dia kaget karena semua kerbaunya tidak ada di tempat semula. Dan Ki Mutingko bertemu dengan Nyi Jasmirah yang sedang lemas dan tampak ketakutan. Ia pun menunda mencari kerbaunya dan menemui Nyi Jasmirah dan mengajaknya istirahat di tempatnya. Maka bertemulah Nyi Jasmirah dengan Onggo Lono. Akhirnya tempat tersebut dinamakan Dusun Tulung yang berarti pertolongan.

Ki Mutingko kembali ke tempat dia menggembalakan kerbaunya, tetapi sesampai di tempat itu kerbaunya tidak ada. Kesana kemari Ki Mutingko mencari hingga sampai di kedung (sungai yang dalam) dan ia melihat kerbaunya yang asyik di dalam kedung. Dan akhirnya tempat tersebut dinamakan Dusun Kedungkebo. Kedung berarti sungai dan Kebo berasal dari bahasa Jawa yang bermakna kerbau.

Ki Mutingko segera menggiring kerbau-kerbaunya pulang. Sesampai di rumah, ia melihat Nyi Jasmirah dengan Onggo Lono sudah tampak sehat dan mereka akhirnya menetap dan tinggal bersama dengan Ki Mutingko.

Setelah beberapa pekan mereka ingin hidup sendiri. Seizin Ki Mutingko, Nyi Jasmirah dan Onggo Lono menuju sebuah padang rumput yang sangat lebat. Rumput sejenis glagah tersebut mereka menyebutnya rumput rayungan. Maka tempat tersebut di beri nama dusun Rayung. Hingga akhirnya Onggo Lono dan Nyi Jasmirah dan dua orang abdinya memutuskan untuk tinggal menetap di tempat itu. Tempat itu pun dinamakan Mernah berarti mapan yang terletak di tengah-tengah Desa Rayung.

Demikianlah sejarah desa Rayung, kecamatan Senori, kabupaten Tuban.



AntiSensei™
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Jam Pelajaran Ke-32 : Sejarah Desa Rayung!"

Terima Kasih Sudah Berkomentar
 
Template By Kuncidunia