
Dahulu kala, Trutup merupakan kawasan hutan belantara yang dipenuhi pohon-pohon besar lengkap dengan rimbunnya semak belukar. Tak hanya itu, daerah ini memiliki banyak penghuni dari bangsa jin yang akan selalu mengganggu manusia jika ia melewati atau bahkan ingin menempati kawasan ini. Alhasil, tak ada seorang pun yang berani memasuki kawasan ini. Apalagi untuk membuka lahan.
Konon katanya, ada seorang wanita sakti bernama Sri Endang memberanikan diri membuka kawasan hutan belantara tersebut. Dengan keberaniannya, ia memasuki kawasan angker itu dan menebang pohon-pohon besar. Serta membabad semak belukar. Iapun mengusir para jin penunggu hutan tersebut dengan kesaktiannya. Setelah menumpas habis para lelembut yang menghuni kawasan itu, akhirnya Sri Endang tinggal disana dan menjadikannya sebuah desa. Kedamaian di desa tersebut menyihir penduduk untuk berdatangan dan bertempat tinggal disana. Sehingga banyak penduduk berbondong-bondong untuk menempati desa tersebut.
Konon, kedamaian dan ketentraman yang tercipta tidak luput dari peran Sri Endang. Tak berapa lama, terciptalah sebuah desa dengan penduduknya yang makmur, tentram dan damai. Sri Endang pun kini mengabdikan diri sebagai dukun beranak karena usianya yang semakin tua dan keinginannya untuk membantu penduduk desa. Tentu, Sri Endang tidak pernah menginginkan balasan untuk pertolongan yang ia berikan. Ia hanya ingin agar penduduknya hidup bahagia. Sehingga, Sri Endang menjadi sosok perempuan yang begitu dihormati dan disegani di masyarakat. Ia pun diberi julukan "Nyai Buyut Endang". Bertahun-tahun kehidupan disana amat bahagia. Namun suatu hari, Nyai Buyut Endang meninggal dunia. Semua penduduk bersedih karena merasa kehilangan sosok yang menjadi panutannya. Kehilangan sosok perempuan yang begitu welas asih. Tak berapa lama sepeninggal Nyai Buyut Endang, kehidupan di desa menjadi sulit. Kekeringan menimpa. Musim paceklik tak habis-habisnya menggiring warga desa ke dalam kesengsaraan. Tak hanya itu, pencuri dan perampok hampir setiap malam mengambil barang-barang milik penduduk. Suasana yang semula damai dan tentram, kini menjadi sangat menakutkan. Tiba-tiba suatu malam, terjadi kejadian ganjil. Di saat para pencuri tengah mengambil barang-barang milik penduduk, rupanya mereka tidak bisa keluar dari desa tersebut. Kemanapun mereka berlari, mereka akan kembali lagi ke tempat yang sama. Mereka merasa linglung tak tahu arah. Mereka merasa sepertinya pintu keluar dari desa tersebut hilang begitu saja. Hingga akhirnya mereka pun menyerah. Pada keesokan harinya, penduduk memergoki para pencuri tersebut. Mereka terheran-heran karena pencuri tersebut sepertinya tidak ingin melarikan diri dan terlihat seperti orang kebingungan. Para pencuri pun mengatakan bahwa mereka tidak bisa keluar dari desa tersebut. Seperti ada sesuatu yang menutupi jalan mereka. Kemanapun mereka berjalan, pasti akan kembali ke tempat semula. Semalaman mereka tak berhenti berjalan. Namun, mereka tidak beranjak ke mana-mana. Mereka tidak mampu menemukan dimana jalan keluarnya. Sampai akhirnya mereka putus asa dan menyerah. Para penduduk percaya bahwa yang menutup jalan adalah Nyai Buyut Endang. Dan warga desa yang notabene pada saat itu menganut ajaran animisme dan dinamisme mempercayai bahwa Nyai Buyut Endang telah melindungi desa mereka lagi. Dari peristiwa itulah mereka memutuskan untuk memberi nama desa mereka dengan nama "Trutup". Nama "Trutup" sendiri berasal dari salah satu kata dari "Dalan Tutup" yang berarti "Jalan yang ditutup". Semenjak kejadian tersebut, musim paceklik di desa tersebut berakhir. Kehidupan mereka pun berangsur-angsur membaik. Akhirnya, desa tersebut kembali aman, damai, dan tertram. Sekarang desa tersebut mencakup dua dusun, yaitu Talun dan Klaseman.
Asal usul nama "Talun" diambil dari kata dalam bahasa Kawi yang berarti "Tempat di lereng gunung". Karena memang daerah tersebut terletak di lereng gunung Lai. Sedangkan asal usul nama "Klaseman" diambil dari nama sebuah pohon, yaitu pohon "Klasem" karena di daerah tersebut banyak ditumbuhi pohon Klasem.
Sekian dan terima kasih.
AntiSensei™
0 Komentar untuk "Jam Pelajaran Keenam : Sejarah Desa Trutup!"