
Hai sobat AntiSensei. Kali ini kami akan menceritakan sedikit sejarah kota kelahiran kami, Tuban. Sobat sekalian sudah pada tahu Tuban belom. Itu loh sebuah kabupaten di ujung barat laut provinsi Jawa Timur berbatasan langsung dengan Rembang, Jawa Tengah. Kira-kira dua jam dari arah Surabaya-Tuban apabila menggunakan transportasi umum.
Hmm... Sobat sekalian, tahu tidak kira-kira di Tuban ada apanya?!! Yups. Benar. Di Tuban ada Goa Akbar, Makam Sunan Bonang, dll. Tapi yang akan kita bahas bukan itu melainkan sejarah Kota Tuban yang terkenal dengan sebutan Bumi Wali, Bumi Ronggolawe dan Kota Toak.
Tapi sebelum itu, mari kita simak dulu yang berikut ini. Cekidot!! (RIP English :v)
Tuban
Dilihat dari peta Indonesia, letak geografis Tuban terletak pada 111°30’ - 112°35’ BT 6°40’ - 7°18’ LS dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah Utara : Laut Jawa
2. Sebelah Timur : Kabupaten Lamongan
3. Sebelah Selatan : Kabupaten Bojonegoro
4. Sebelah Barat : Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora (Jawa Tengah)
Kemudian dari segi topografi, Tuban memiliki:
a. Luas Daratan : 183.994.562 Ha (3,8% dari luas wilayah Provinsi Jawa Timur)
b. Panjang pantai 65 Km membentang dari arah timur Kecamatan Palang sampai arah barat Kecamatan Bancar.
c. Luas Lautan : 22.608,00 Km persegi.
Dari segi geologi, keadaan tanah di Kabupaten Tuban terdiri dari:
1. Mediteran merah kuning, berasal dari endapan batu kapur di daerah bukit sampai gunung (38% dari luas wilayah), terdapat di kecamatan Semanding, Montong , Kerek, Palang, Jenu, sebagian Tambakboyo, Widang, Plumpang dan Merakurak
2. Alluvial, berasal dari endapan di daerah daratan dan cekungan (34% dari luas wilayah), terdapat di kecamatan Tambakboyo, Bancar, Tuban, Palang, Rengel, Soko, Parengan, Singgahan, Senori dan Bangilan.
3. Grumusol, berasal dari endapan batuan di daerah yang bergelombang (5% dari luas wilayah), terdapat di kecamatan Bancar, Jatirogo, dan Senori.
Dari segi iklim:
1. Ada dua musim, yaitu: musim penghujan dan musim kemarau
2.Curah hujan rata-rata 3.376 mili meter per tahun.
3.Jumlah hari hujan rata-rata 175 per tahun
Kota Tuban di tinjau dari geografinya dapat kita lihat selain memiliki laut, pantai dan pertanian yang subur juga memiliki pegunungan kapur. Hal ini yang menyebabkan Kota Tuban memiliki sumber daya alam yang cukup baik dan semestinya hal ini harus ditunjang dengan pengelolaan yang baik pula. Batuan kapur mendominasi dataran wilayah Tuban yang ikut mempengaruhi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat Tuban.
Asal Usul Nama Tuban
Tuban adalah sebuah nama daerah di Jawa Timur yang kaya akan sejarah. Mulai dari Ronggolawe (pahlawan Tuban), Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Joko Tarub, dsb. Sebelum menggunakan nama yang sekarang, Tuban dulu masih menggunakan nama Kambang Putih sejak abad ke-11 sampai 15 dalam berita-berita para penulis China (pada jaman dinasti Song Selatan 1127-1279 dan dinasti Yuan (Mongol) 1271-1368 sampai jaman dinasti Ming th.1368-1644 5). Kenapa dinamakan Kambang Putih?! Karena memiliki struktur tanah yang berupa tanah kapur dan jika dilihat dari laut akan nampak sebuah dataran putih yang sekilas terlihat seolah-olah mengambang.
Berikut adalah sejarah asal usul nama kota Tuban.
A. Berdasarkan Legenda
1. Watu Tiban
Raden Patah adalah putra raja Majapahit. Oleh ayahnya diberi hutan Glagahwangi agar dibuka dan dijadikan kadipaten dan kadipaten tersebut diberi nama kadipaten Demak Bintara. Demak semakin lama semakin besar. Banyak kadipaten yang sebelumnya masuk wilayah Majapahit bergabung dengan Demak. Raden Patah juga dapat dukungan dari para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa sehingga Demak menjadi semakin kuat dan besar hingga menjadi sebuah kerajaan.
Pada suatu ketika, Raden Patah mengetahui bahwa kerajaan Majapahit diserang Giriwardhana dari kerajaan Daha. Ayah Raden Patah yang menjadi raja Majapahit melarikan diri tak tentu rimbanya. Timbullah kemarahan Raden Patah untuk menyerang kerajaan Daha yang telah menduduki Majapahit. Serangan Raden Patah segera dilakukan dengan mendapat dukungan dari para wali maka dengan mudah mengalahkan Giriwardhana. Raden Patah mengumpulkan barang berharga dan benda keramat di Majapahit untuk dibawa ke Demak. Semua benda sudah dikemas dan dimasukkan ke dalam kereta untuk dibawa ke Demak. Tinggal dua batu besar yang akan dibawa ke Demak, maka Raden Patah bertanya ke prajurit, "Aku ingin membawa dua batu ini juga, coba siapa yang mau membawa dua batu besar ini?"
"Maaf Raden. Tentu tidak ada yang bisa membawa dua batu besar ini ke Demak. Perjalanan ke Demak begitu jauh." sahut para wali.
"Biarlah kami para wali meminta kepada dua burung bangau." Imbuhnya.
"Maaf burung bangau!! Kami butuh bantuan kalian untuk membawa dua batu ini ke Demak. Kami harap kalian ikhlas membantu kami. Tuhan tentu akan mencantat semua amal perbuatan kalian." kata sang wali.
Sang wali pun menyuruh para prajurit meletakkan dua batu itu di atas dua burung bangau. Kedua burung itu pun segera terbang ke arah Demak Bintara. Tibalah kedua burung itu pun di atas tanah lapang. Banyak pengembala yang sedang mengembalakan ternak. Para pengembala melihat burung bangau itu membawa dua batu besar di punggung masing-masing.
"Hei, lihat itu di atas!! Ada dua ekor burung bangau yang aneh." teriak seorang pengembala sambil menunjuk ke arah bangau tersebut. "Benar. Terbangnya pun sangat lambat seperti jalannya kura-kura saja." sahut pengembala yang lain.
Kedua bangau pun marah dan segera mengepakkan sayapnya lebih cepat. Hasilnya bukan tambah cepat tetapi sayapnya semakin melemah. Kedua bangau itu pun hampir meluncur jatuh karena kelelahan. Akhirnya, kedua burung bangau itu pun menjatuhkan kedua batu yang ada di punggungnya agar mereka tidak meluncur jatuh. Saat kedua batu itu jatuh, para pengembala berteriak, "Watu tiban (batu jatuh)!!! Watu tiban!!!"
Teriakan para pengembala itu di dengar oleh banyak orang, sehingga peristiwa tersebut tersebar kemana-mana dan menjadi pembicaraan banyak orang. Dengan demikian, kata "Watu Tiban" pun disingkat menjadi TU-BAN dan akhirnya daerah tersebut dinamakan TUBAN.
Dua batu yang masih legenda itu masih ada. Dan ternyata batu berupa Yoni. Di batu itu tertuliskan tahun 1400 Saka dan masih disimpan di halaman museum Kambang Putih tidak jauh dari alun-alun kota TUBAN dan makam Sunan Bonang.
2. Metu Banyu
Sesuai dengan petunjuk yang di terima oleh Raden Arya Dandang Wacono, yaitu membuka hutan Papringan untuk dijadikan kadipaten. Pada saat pembukaan hutan Papringan, tidak sengaja pedang milik Raden Arya Dandang Wacono mengenai rumpun bambu dan keluarlah dengan tidak terduga sebuah sumber air yang sangat deras. Dalam bahasa Jawa "Metu Banyune" yang berarti keluar airnya, maka spontan Raden Arya Dandang Wacono memberi nama tempat tersebut dengan nama TUBAN yang berasal dari suku kata "TU" dan "BAN".
Sumber airnya yang sangat sejuk sehingga pada akhirnya tempat tersebut dinamakan "Bektiharjo".
3. Ngestuake Kewajiban
Menurut kebiasaan sehari-hari, masyarakat Tuban mudah diarahkan untuk melaksanakan yang bersifat membangun. Sifat demikian dalam bahasa Jawa "Nges(Tu) kewaji(Ban)". Dan dari penggalan suku kata tersebut daerah itu dinamakan TUBAN.
II. Berdasarkan Etimologi
Dalam bahasa Jawa Kawi, "Tuban" berarti "Jeram", sedangkan jeram itu sendiri adalah air terjun. Apabila kita lihat di Tuban terdapat air terjun Nglirip yang terdapat di kecamatan Singgahan dan air terjun Banyu Langse di kecamatan Semanding. Walaupun terdapat air terjun, tapi tidak ada data Arkeologi yang mendukung bahwa itu bekas suatu kota.
1. Data Arkeologi
Di Ngerong, kecamatan Rengel, terdapat arca Mahatula yang menunjukkan ciri jaman Singosari. Begitu pula terdapat pecahan keramik serta batu bata. Selain itu, wilayah kecamatan Rengel ditemukan pula prasasti Malengga dan Banjaran yang tertera tahun 1052 M.
2. Data Geografis
Rengel terletak di tepi Sungai Bengawan Solo yang jaman dulu merupakan sarana penghubung utama. Di tepi sungai Bengawan Solo terdapat hamparan sawah yang subur serta pegunungan yang membujur dari arah utara sampai ke selatan. Hal ini sangat strategis ditinjau dari segi ekonomi maupun militer dalam mendukung pengembangan pusat pemerintahan.
III. Beberapa Sumber Tertulis yang Berkaitan dengan Tuban
Untuk mendukung penelusuran kapan berdirinya Tuban sebagai desa atau wilayah yang setingkat dengan kabupaten sekarang ini, perlu pengkajian sumber tertulis yang berupa:
1. Sumber tertulis berupa: Prasasti Kambang Putih, Prasasti Malengga, Prasasti Banjaran, Prasasti Tuban.
2. Sumber tertulis berupa kitab yang mengisahkan tentara Tar Tar dibawah pimpinan komando Sih-pie, Kau Sing dan Ike Messe yang sebagian mendarat di Tuban dan sebagian meneruskan ke Sedayu. Dengan bantuan Raden Wijaya, tentara TarTar dapat mengalahkan Jayakatwang dari Kediri tapi pada akhirnya tentara Tar-Tar dapat dihancurkan oleh Raden Wijaya dengan bantuan Arya Wiraraja dari Sumenep. Setelah hancurnya tentara Tar-Tar, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Majapahit dengan gelar Sri Kertajasa Prawira.
3.Sumber tertulis berupa berita dari negeri tirai bambu, Cina, yang sangat penting adalah uraian Ma Hua dalam bukunya Ying Yai Shing Lan. Ma Hua adalah orang Tionghoa yang beragama Islam, yang mengiringi perjalanan Cheng Ho dalam perjalanan ke daerah daerah lautan selatan (1413 M – 1425 M).
Menurut sumber terpercaya, tonggak sejarah hari jadi kota Tuban diawali dengan diangkat dan dilantiknya Ronggolawe sebagai adipati Tuban yang pertama. Dan hari itu bertepatan dengan tanggal 12 November 1293.
AntiSensei™
Semua Tentang Ilmu Pengetahuan
Next
« Prev Post
« Prev Post
Previous
Next Post »
Next Post »
Copyright © 2014 AntiSensei Indonesia - All Rights Reserved
Template By Kuncidunia
0 Komentar untuk "Jam Pelajaran Keempat : Sejarah Tuban!"